Turnover karyawan yang tinggi sering kali menjadi tantangan besar bagi perusahaan. Kondisi ini dapat mengganggu stabilitas operasional dan menghambat pencapaian target bisnis.
Lebih dari sekadar pergantian staf, turnover bisa menunjukkan adanya masalah internal. Faktor seperti kepuasan kerja, budaya organisasi, hingga kepemimpinan memainkan peran penting di dalamnya.
Untuk itu, perusahaan perlu strategi yang tepat guna memantau dan menekan angka turnover. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sistem talent management yang mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan-karyawan terbaik agar tetap berkontribusi dalam jangka panjang.
Melalui artikel ini, Anda akan menemukan penjelasan lengkap seputar turnover karyawan serta solusi yang dapat diterapkan untuk menjaga stabilitas dan produktivitas tim Anda.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Pengertian Turnover Karyawan
Turnover karyawan merupakan proses ketika seorang pegawai keluar dari perusahaan, baik karena keputusan pribadi maupun kebijakan perusahaan. Kondisi ini bisa bersifat alami, namun bila terlalu sering terjadi, dapat menimbulkan gangguan bagi operasional.
Pergantian karyawan biasanya dihitung dalam periode waktu tertentu untuk mengetahui seberapa sering posisi diisi ulang. Tingkat turnover yang tinggi bisa menjadi sinyal bahwa ada ketidaksesuaian dalam sistem kerja, budaya organisasi, atau manajemen SDM.
Meski umum terjadi, turnover tetap perlu diawasi dengan serius. Pasalnya, kehilangan karyawan berpengalaman berarti perusahaan harus memulai proses rekrutmen dan pelatihan dari awal, yang tentunya memakan waktu dan biaya.
Jenis Turnover Karyawan
Turnover karyawan terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan dampaknya terhadap perusahaan. Berikut adalah klasifikasi turnover:
1. Sukarela
Jenis ini terjadi ketika karyawan memutuskan untuk keluar dari perusahaan secara pribadi, tanpa paksaan dari pihak luar. Biasanya, keputusan ini didorong oleh alasan seperti gaji, peluang karir, atau alasan pribadi lainnya.
2. Tidak sukarela
Sebaliknya, turnover tidak sukarela terjadi ketika perusahaan yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja. Hal ini biasanya disebabkan oleh kinerja karyawan yang tidak memadai atau pelanggaran terhadap aturan perusahaan.
3. Fungsional
Turnover jenis ini dianggap positif oleh perusahaan karena terjadi ketika karyawan dengan kinerja buruk digantikan oleh tenaga kerja yang lebih baik. Dengan demikian, turnover ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan perusahaan.
4. Disfungsional
Jenis turnover disfungsional justru merugikan perusahaan. Ini terjadi ketika karyawan dengan kinerja baik memutuskan untuk keluar, yang bisa menyebabkan penurunan produktivitas dan kerugian bagi organisasi.
5. Dapat dikendalikan
Perusahaan masih memiliki kendali untuk mencegah turnover jenis ini. Penyebabnya bisa berupa ketidakpuasan terhadap kepemimpinan atau kebijakan internal yang bisa diperbaiki melalui manajemen yang lebih baik, misalnya dengan melakukan penilaian kinerja yang tepat.
6. Tidak dapat dikendalikan
Turnover yang disebabkan oleh faktor luar perusahaan, seperti masalah geografis atau perubahan pribadi yang tidak berhubungan dengan kondisi perusahaan, termasuk dalam jenis ini. Perusahaan tidak dapat mengontrol atau mencegah jenis turnover ini.
Penyebab Turnover Karyawan
Berikut ini sejumlah penyebab umum turnover karyawan yang kerap terjadi di berbagai perusahaan:
-
Gaji yang tidak kompetitif
Ketika karyawan merasa gaji yang diterima tidak sepadan dengan tanggung jawab atau lebih rendah dari standar industri, mereka akan mencari perusahaan lain yang bisa menawarkan kompensasi lebih baik.
-
Minimnya peluang pengembangan karir
Karyawan ingin berkembang. Jika perusahaan tidak menyediakan pelatihan, jenjang karir, atau ruang untuk peningkatan kompetensi, maka mereka cenderung merasa stagnan dan mulai melirik peluang baru.
-
Lingkungan kerja yang tidak mendukung
Kondisi kerja yang penuh tekanan, konflik antar tim, atau tidak adanya budaya kerja positif bisa memicu stres dan menurunkan motivasi, yang akhirnya membuat karyawan memilih keluar.
-
Gaya kepemimpinan yang buruk
Pemimpin yang otoriter, tidak komunikatif, atau tidak mampu membangun kepercayaan bisa membuat karyawan merasa tidak dihargai dan enggan untuk bertahan lama.
-
Beban kerja berlebih tanpa apresiasi
Karyawan yang terus menerima beban kerja tanpa dukungan, waktu istirahat, atau penghargaan, akan merasa burnout dan kehilangan semangat bekerja.
-
Ketidaksesuaian budaya perusahaan
Perbedaan nilai, etika kerja, atau cara kerja antara perusahaan dan karyawan bisa menciptakan rasa tidak nyaman yang berujung pada keputusan untuk resign.
-
Faktor pribadi dan geografis
Keputusan resign juga bisa disebabkan oleh hal-hal di luar kendali perusahaan, seperti pindah domisili, kondisi kesehatan, atau tanggung jawab keluarga yang membutuhkan penyesuaian besar.
Contoh Kasus Turnover Karyawan
PT Amanah Jaya, perusahaan logistik berskala menengah, mengalami lonjakan turnover dalam satu tahun terakhir. Dari total 120 karyawan, lebih dari 30 orang mengundurkan diri, mayoritas dari divisi operasional dan customer service. Hal ini mulai berdampak pada kelancaran operasional.
Hasil exit interview menunjukkan alasan utama resign adalah beban kerja tinggi, sistem shift yang tidak adil, dan kurangnya peluang pengembangan karier. Karyawan merasa suara mereka tidak terdengar oleh manajemen, sementara pelatihan dan jalur promosi nyaris tidak tersedia.
Tingginya angka turnover ini membuat perusahaan kesulitan menjaga stabilitas tim. Biaya rekrutmen dan pelatihan meningkat, sementara kualitas layanan kepada pelanggan menurun. Produktivitas pun terganggu karena karyawan baru terus berganti sebelum benar-benar beradaptasi.
Sebagai solusi, perusahaan mulai melakukan evaluasi internal dan menerapkan pendekatan strategis dalam mengelola SDM. Salah satu langkah efektif yang diambil adalah penggunaan sistem talent management untuk memantau performa, memberikan pelatihan, dan menjaga engagement karyawan.
Cara Menghitung Turnover Karyawan
Turnover karyawan mengukur persentase karyawan yang keluar dari perusahaan dalam periode tertentu. Perhitungan ini penting untuk memahami stabilitas tenaga kerja dan efektivitas strategi retensi perusahaan. Berikut cara menghitungnya:
1. Perhitungan Turnover Tahunan
Menghitung tingkat turnover bisa dimulai dari rumus paling dasar yaitu jumlah karyawan yang keluar dibagi dengan rata-rata jumlah karyawan selama periode tertentu, lalu dikalikan 100 untuk mendapatkan persentase.
Sebagai contoh, selama tahun 2024 ada 10 karyawan yang resign. Di awal tahun, perusahaan memiliki 100 karyawan, dan jumlah tersebut tetap sama di akhir tahun. Maka rumusnya menjadi:
(10 ÷ ((100 + 100) ÷ 2)) × 100 = 10%
Artinya, tingkat turnover karyawan perusahaan selama 2024 adalah 10 persen.
Dengan perhitungan ini, perusahaan bisa lebih waspada dan cepat tanggap terhadap tren turnover yang terjadi secara rutin.
2. Perhitungan Turnover Bulanan
Selain tahunan, turnover juga bisa dihitung setiap bulan untuk melihat fluktuasi karyawan secara berkala. Rumusnya tetap sederhana: jumlah karyawan yang keluar dibagi dengan rata-rata jumlah karyawan bulan itu, lalu dikalikan 100.
Misalnya, di bulan Maret, ada 5 orang yang keluar dari perusahaan. Rata-rata jumlah karyawan selama bulan itu adalah 100 orang. Maka:
(5 ÷ 100) × 100 = 5%
Dari sini bisa dilihat bahwa tingkat turnover perusahaan di bulan Maret adalah 5 persen.
Perhitungan bulanan seperti ini berguna untuk memantau dinamika tenaga kerja dengan lebih cepat. Jika angka turnover meningkat dalam waktu singkat, perusahaan bisa segera mengevaluasi kondisi internal dan mencari solusi lebih awal.
Dampak Turnover Karyawan pada Perusahaan
Tingkat turnover karyawan yang tinggi dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap berbagai aspek operasional dan strategis perusahaan. Berikut adalah beberapa dampaknya:
1. Penurunan ROI pemasaran
Kehilangan karyawan yang kompeten di bidang pemasaran dan kreatif dapat menghambat kemampuan perusahaan dalam merancang dan melaksanakan strategi pemasaran yang efektif. Akibatnya, Return on Investment (ROI) dari kegiatan pemasaran dapat menurun, sementara biaya iklan dan promosi terus meningkat.
2. Penurunan kualitas produk atau jasa
Turnover yang tinggi sering memaksa perusahaan untuk merekrut karyawan baru dalam waktu singkat, yang mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang memadai. Hal ini dapat berdampak pada penurunan kualitas produk atau layanan, sehingga mempengaruhi kepuasan pelanggan dan reputasi perusahaan.
3. Penurunan semangat kerja karyawan
Karyawan yang tersisa setelah rekan-rekannya pergi seringkali merasa terbebani dengan tugas tambahan, yang dapat menurunkan semangat kerja, menambah stres, dan akhirnya mengurangi produktivitas karyawan.
Cara Menurunkan Angka Turnover Karyawan
Employee turnover yang tinggi bisa menjadi tanda bahwa perusahaan perlu berbenah. Untuk menekan angkanya, perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah strategis berikut:
1. Menawarkan gaji dan tunjangan yang kompetitif
Memberikan kompensasi yang sepadan dengan tanggung jawab dan kinerja karyawan adalah bentuk apresiasi paling dasar. Perusahaan perlu memastikan bahwa gaji dan tunjangan yang diberikan masih sesuai standar pasar, termasuk insentif atau bonus yang dapat meningkatkan motivasi.
2. Menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi
Karyawan yang merasa kelelahan dan tidak punya waktu untuk diri sendiri cenderung lebih cepat mencari pekerjaan baru. Memberikan fleksibilitas jam kerja atau mendukung cuti yang layak bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar.
3. Memberikan kesempatan pengembangan karier
Karyawan cenderung lebih loyal apabila mereka memiliki kesempatan untuk berkembang. Program employee development yang berkelanjutan dapat memperkuat keterikatan dan mengurangi tingkat turnover.
4. Memperbaiki budaya kerja
Lingkungan kerja yang sehat, terbuka, dan suportif akan membuat karyawan merasa dihargai. Evaluasi rutin terhadap budaya kerja, termasuk komunikasi internal dan sistem manajerial, perlu dilakukan agar budaya perusahaan tetap kondusif.
Minimalkan Turnover dan Maksimalkan Produktivitas dengan EVA Talent Management dari HashMicro
Turnover karyawan yang tinggi dapat mengganggu stabilitas perusahaan. Untuk itu, perusahaan perlu sistem yang efektif dalam mengelola dan mempertahankan karyawan. EVA Talent Management dari HashMicro hadir sebagai solusi untuk menurunkan turnover dan meningkatkan produktivitas.
EVA Talent Management memudahkan perusahaan dalam mengelola SDM secara efisien. Sistem ini membantu perusahaan mengurangi turnover melalui pemantauan kinerja yang konsisten dan penyediaan program pengembangan yang sesuai. Berikut adalah fitur utama yang dapat membantu mengatasi masalah turnover:
- Rekrutmen yang efektif dan efisien: Membantu perusahaan memilih karyawan yang tepat. Dengan sistem rekrutmen yang efisien, perusahaan dapat menurunkan risiko turnover akibat ketidakcocokan antara karyawan dan perusahaan.
- Manajemen kinerja yang terintegrasi: Memungkinkan perusahaan memantau kinerja karyawan secara terus-menerus. Penghargaan atau kesempatan pengembangan dapat meningkatkan kepuasan karyawan dan mengurangi turnover.
- Pelatihan dan pengembangan karyawan: Memberikan kesempatan bagi karyawan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Karyawan yang merasa berkembang cenderung lebih loyal dan mengurangi kemungkinan berpindah ke perusahaan lain.
- Manajemen penggajian yang transparan: Manajemen Penggajian yang adil dan transparan dapat meningkatkan kepuasan karyawan. Karyawan yang merasa dihargai lebih cenderung bertahan, mengurangi turnover perusahaan.
- Analisis dan laporan SDM yang mendalam: Memberikan data yang diperlukan untuk mengambil keputusan yang tepat. Data ini membantu perusahaan menurunkan turnover dan meningkatkan kepuasan karyawan secara keseluruhan.
Dengan EVA Talent Management, perusahaan dapat meminimalkan turnover dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan loyal. Coba demo gratis sekarang dan lihat bagaimana sistem ini dapat membantu perusahaan Anda!
Kesimpulan
Tingkat turnover karyawan yang tinggi dapat menjadi indikator lemahnya manajemen talenta dalam perusahaan. Jika dibiarkan, kondisi ini bukan hanya mempengaruhi produktivitas, tetapi juga stabilitas jangka panjang organisasi.
EVA Talent Management dari HashMicro hadir sebagai solusi komprehensif untuk mengelola siklus hidup karyawan, mulai dari perencanaan karier hingga evaluasi kinerja. Sistem ini membantu perusahaan menyusun strategi SDM yang lebih terstruktur dan terukur.
Coba langsung bagaimana EVA dapat membantu perusahaan Anda. Jadwalkan demo gratis hari ini dan temukan cara baru dalam membangun tim yang unggul dan berkelanjutan.
Pertanyaan Seputar Turnover Karyawan
-
-
Apa yang dimaksud turnover karyawan?
Turnover karyawan adalah proses ketika karyawan keluar dari perusahaan, baik secara sukarela maupun karena keputusan manajemen, yang berdampak pada kebutuhan penggantian posisi tersebut.
-
Apa perbedaan strategi retensi untuk karyawan entry-level dan karyawan senior?
Entry-level fokus pada pelatihan dan pengembangan, sementara senior butuh penghargaan, pelibatan, dan jenjang karier jelas.
-
Bagaimana membedakan turnover yang sehat dan turnover yang berbahaya bagi perusahaan?
Turnover sehat bersifat alami dan terkendali, sedangkan turnover berbahaya terjadi terus-menerus dan berdampak pada stabilitas tim.
-