Menurut Peraturan Direktur Jendral Bea dan Cukai Pasal 1 ayat (8) Per DJBC 09/BC/2014, yang dimaksud dengan IT Inventory adalah sistem informasi yang dibuat, dikembangkan, dan digunakan oleh perusahaan untuk membantu administrasi persediaan barang di perusahaan kawasan berikat.
Administrasi yang dimaksud yakni dengan cara mengintegrasikan sistem transaksi pemasukan, pemakaian barang, dan pengeluaran barang di satu aplikasi.
Selain itu, setiap perusahaan yang beroperasi di Kawasan Berikat wajib memiliki sistem ini dan dapat diakses oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) secara berkala.
Hal ini merupakan langkah krusial dalam menjaga kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan hukum yang berlaku dalam lingkup Kawasan Berikat.
Pada artikel ini, kami akan membahas secara mendalam manfaat yang ditawarkan oleh IT Inventory Kawasan Berikat dalam memfasilitasi dan meningkatkan proses ekspor-impor, serta jenis laporan yang bisa dibantu oleh sistem.
Key Takeaways
|
Daftar Isi:
Apa Itu IT Inventory Kawasan Berikat?
IT Inventory Kawasan Berikat adalah sistem untuk mengelola inventaris di kawasan berikat. Sistem ini memantau secara real-time dan mengotomatiskan proses penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang agar sesuai dengan aturan bea cukai.
Dengan adanya sistem ini, Perusahaan Kawasan Berikat dapat memastikan laporan stok barang yang dibuat sudah sesuai dengan ketentuan DJBC secara otomatis, karena tanpa laporan tersebut perusahaan tidak bisa melakukan kegiatan impor maupun ekspor.
Fitur utama dari IT Inventory Kawasan Berikat meliputi pencatatan otomatis, pemantauan stok secara real-time, dan kemampuan untuk menghasilkan laporan yang sesuai dengan persyaratan DJBC.
Manfaat Pendayagunaan Sistem IT Inventory Kawasan Berikat
Penerapan IT Inventory di kawasan berikat sangat penting untuk meningkatkan efisiensi manajemen inventaris sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi.
Sistem ini tidak hanya menyederhanakan pengelolaan persediaan, tetapi juga menyediakan informasi yang akurat bagi stakeholder, meningkatkan kualitas layanan, dan memungkinkan integrasi dengan CEISA.
Bagi industri di kawasan berikat, memiliki IT Inventory yang terhubung dengan DJBC bukan sekadar kebutuhan, tetapi keharusan untuk memastikan transparansi dan kontrol yang lebih baik terhadap arus barang.
Dengan sistem ini, perusahaan dan DJBC dapat mengelola pergerakan barang secara lebih efektif dan efisien, mengurangi risiko kesalahan, serta meningkatkan akurasi data.
Manfaatnya pun beragam, baik bagi perusahaan maupun DJBC. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang perlu Anda ketahui:
Pihak Perusahaan
- Lebih mudah dalam mengelola persediaan barang dengan IT Inventory kawasan berikat.
- Memudahkan perusahaan dalam menghasilkan informasi bagi stakeholder termasuk DJBC.
- Mempermudah proses rekonsiliasi dengan dokumen kepabeanan.
- Memperoleh peningkatan pelayanan yang sesuai dengan profil dan kriteria pemenuhan persyaratan.
- Mempermudah urusan kepabeanan dan bea cukai melalui integrasi dengan CEISA.
Pihak DJBC
- Kemudahan dalam memberikan pelayanan yang baik.
- Kemudahan dalam melakukan rekonsiliasi dokumen kepabeanan dengan pergerakan persediaan dalam IT Inventory yang perusahaan miliki.
- Memudahkan profiling terhadap perusahaan.
Fakta Menarik
Jenis Laporan Apa Saja yang Bisa Dibuat dengan Sistem IT Inventory Kawasan Berikat?
Jenis laporan yang bisa dibuat dengan sistem IT Inventory Kawasan Berikat meliputi laporan penerimaan barang, pengeluaran barang, WIP, barang sisa, & bahan baku.
Sistem ini menghasilkan laporan tersebut dengan memproses data inventaris secara real-time dan menyediakan informasi yang akurat.
Sistem IT Inventory kawasan berikat adalah tulang punggung dalam manajemen persediaan modern, memungkinkan perusahaan untuk melacak, mengelola, dan mengoptimalkan stok mereka secara efisien.
Namun, apakah Anda pernah mengalami kesulitan dalam melakukan ekspor-impor barang karena tidak mempunyai laporan yang lengkap?
Salah satu keuntungan utama dari sistem ini adalah kemampuannya untuk menghasilkan berbagai jenis laporan yang berharga.
Dari laporan tentang status persediaan hingga pengiriman barang, hal ini dapat memberikan wawasan berharga bagi perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih baik dalam manajemen persediaan mereka.
Di bawah ini terdapat beberapa jenis laporan yang dapat Anda gunakan:
1. Laporan penerimaan barang
Laporan ini akan memberikan hasil yang terperinci dengan visibilitas ke dalam barang yang diterima, jumlah, asal, dan informasi bea cukai terkait. Dalam sistem ini, informasi penerimaan barang merupakan hal krusial yang harus terdokumentasi dengan baik.
2. Laporan pengeluaran barang
Anda dapat membuat laporan yang mendokumentasikan barang yang keluar dari lokasi, seperti detail pengiriman, tujuan, dan jumlah barang yang diekspor.
3. Laporan WIP
Jenis laporan ini dapat memantau status dan kemajuan barang dalam produksi, termasuk saldo awal, pemasukan, hasil, stock opname, dan mutasi terkait lainnya.
4. Laporan barang sisa
Anda bisa mencatat informasi di laporan tentang barang yang dihapuskan, jumlahnya, alasan pembuangan, dan kepatuhan terhadap peraturan bea cukai.
5. Laporan bahan baku
Adanya laporan dapat membantu Anda untuk melacak penambahan, pengurangan, transfer, dan mutasi lainnya yang terkait dengan pengadaan, penyimpanan, atau penggunaan bahan baku.
6. Laporan barang jadi
Pada laporan ini, Anda dapat mengetahui perubahan pada barang jadi dengan rincian tentang modifikasi dalam jumlah atau lokasinya.
7. Laporan mesin dan perlengkapan
Dengan sistem ini, Anda bisa membuat laporan perubahan inventaris mesin dan perlengkapan untuk melacak akuisisi, pelepasan, transfer, dan mutasi terkait lainnya.
8. Laporan mutasi bahan baku dan bahan penolong
Laporan mutasi bahan baku dan bahan penolong mencatat setiap pergerakan barang yang masuk dan keluar dari gudang produksi. Bahan baku adalah komponen utama yang digunakan dalam proses produksi, sedangkan bahan penolong adalah bahan tambahan yang membantu proses tersebut.
9. Laporan mutasi barang jadi
Laporan mutasi barang jadi mencatat semua transaksi yang berkaitan dengan barang yang telah selesai diproduksi. Laporan ini meliputi data barang jadi yang disimpan di gudang, jumlah barang yang dikirim, serta barang yang masih dalam proses pengiriman.
10. Laporan mutasi barang sisa/scrap
Laporan mutasi barang sisa atau scrap berfokus pada pergerakan barang-barang yang tidak lagi digunakan dalam produksi, seperti sisa bahan baku atau produk cacat. Barang-barang ini masih memiliki nilai ekonomi tertentu seperti bahan yang dapat didaur ulang.
11. Laporan mutasi mesin dan alat perkantoran
Selain bahan baku dan barang jadi, sistem IT Inventory juga mencakup laporan mutasi untuk mesin dan alat perkantoran. Laporan ini mencatat pergerakan mesin produksi, peralatan kantor, dan aset lain yang digunakan dalam operasi perusahaan.
Sistem IT Inventory bea cukai, terutama solusi yang canggih seperti yang ditawarkan oleh HashMicro, dapat membantu dalam menyederhanakan dan mempercepat proses pembuatan laporan di atas. yang diperlukan dalam manajemen persediaan.
Berkat otomatisasi yang canggih, data yang diperlukan untuk laporan-laporan ini dapat diakses dalam real-time dan akurasi tinggi.
Ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga meminimalkan risiko kesalahan manusiawi yang dapat terjadi dalam proses manual.
Tipe-Tipe IT Inventory dalam Perusahaan Kawasan Berikat
Melalui peraturan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), kondisi IT Inventory di kawasan berikat diklasifikasikan menjadi empat tipe yaitu Kategori A, B, C, dan D. Berikut penjelasan terkait klasifikasi tersebut:
1. Kategori A (Integrated System)
Kategori A mencakup perusahaan kawasan berikat yang menggunakan satu aplikasi sistem pencatatan pembukuan di mana IT Inventory menjadi bagian integral dari sistem tersebut. Sistem ini sepenuhnya terintegrasi dan seluruh data keluar masuk barang dicatat dalam satu platform yang sama.
2. Kategori B (Mirroring Database)
Kategori B melibatkan penggunaan dua aplikasi yang terintegrasi dalam sistem pencatatan barang di kawasan berikat. Perusahaan dalam kategori ini memiliki dua aplikasi terpisah; satu adalah sistem pencatatan pembukuan utama, dan yang kedua adalah IT Inventory.
3. Kategori C (Stand-Alone System)
Kategori C adalah sistem di mana aplikasi pencatatan pembukuan perusahaan dan IT Inventory berdiri sendiri dan tidak saling terintegrasi. Perusahaan dalam kategori ini menggunakan dua aplikasi terpisah yang tidak saling berbagi data secara otomatis.
4. Kategori D (Manual System)
Kategori D merupakan tipe dengan sistem paling sederhana dan berisiko tinggi, di mana pencatatan pembukuan dan IT Inventory masih dilakukan secara manual. Perusahaan di kategori ini mendapatkan perhatian khusus dari DJBC karena potensi risiko ketidaksesuaian data yang lebih tinggi.
Melalui klasifikasi ini, DJBC mengatur pengelolaan IT Inventory dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis, memungkinkan perusahaan di kawasan berikat untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Masalah yang Sering Terjadi Jika Tidak Menggunakan Sistem IT Inventory Kawasan Berikat
Masalah yang sering muncul tanpa sistem IT Inventory Kawasan Berikat adalah kesulitan mematuhi persyaratan DJBC dan kurangnya integrasi sistem, seperti sulitnya mengikuti template laporan, proses transfer akses yang tidak efisien, dan meningkatnya risiko kesalahan.
Pengelolaan persediaan sangat penting untuk kelancaran operasi, terutama bagi perusahaan di Kawasan Berikat yang memiliki regulasi ketat. Namun, banyak perusahaan masih menggunakan metode manual alih-alih sistem canggih.
Oleh karena itu, berikut adalah beberapa masalah yang memungkinkan dapat terjadi jika masih membuat laporan secara manual:
- Kesulitan dalam mematuhi persyaratan DJBC yang kompleks: Tanpa sistem IT yang canggih, perusahaan akan kesulitan memenuhi berbagai persyaratan dan regulasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
- Mudah lelah dalam mengikuti template laporan: Penggunaan metode manual memerlukan tenaga dan waktu yang lebih banyak. Selain itu, proses manual rentan terhadap kesalahan manusia.
- Transfer akses ke DJBC yang tidak efisien: Proses manual sering kali memerlukan waktu lebih lama untuk mengirimkan data ke DJBC.
- Kurangnya integrasi sistem: Tanpa integrasi yang baik, data yang dihasilkan bisa tidak konsisten dan tidak akurat, yang dapat mempengaruhi keputusan bisnis.
- Kesulitan menghasilkan data ekspor-impor real-time: Sistem manual tidak dapat memberikan data secara real-time, yang penting untuk pengambilan keputusan cepat dan tepat.
- Risiko kebocoran data: Tanpa sistem IT yang baik, kontrol akses data menjadi sulit, meningkatkan risiko kebocoran data karena mempunyai akses karyawan yang tidak terbatas.
- Waktu dan biaya operasional lebih tinggi: Pengelolaan manual memerlukan lebih banyak waktu dan biaya dibandingkan dengan sistem otomatis.
- Kesulitan melacak pergerakan barang: Tanpa sistem ini, melacak pergerakan barang masuk dan keluar menjadi lebih sulit dan memakan waktu.
- Kurangnya visibilitas dan transparansi: Sistem manual tidak memberikan visibilitas yang baik terhadap inventaris.
Kriteria Penting dalam Memilih Software IT Inventory
Berikut ini adalah beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk memastikan bahwa software yang Anda pilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.
1. Pencatatan barang secara real-time: IT inventory harus mampu melakukan pencatatan secara kontinu dan realtime untuk setiap pemasukan dan pengeluaran barang, termasuk barang dalam proses produksi, penyesuaian, serta hasil stock opname.
2. Kemampuan membuat laporan khusus: Software ini harus bisa menghasilkan laporan yang detail, seperti laporan pemasukan dan pengeluaran barang per dokumen pabean, posisi barang dalam proses produksi, serta laporan mutasi barang termasuk bahan baku, barang jadi, sisa/scrap, dan mesin.
3. Aksesibilitas 24 jam: IT inventory yang digunakan harus dapat diakses oleh petugas Bea dan Cukai kapan saja, memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
4. Integrasi dengan sistem akuntansi: Kriteria lain yang penting adalah integrasi dengan sistem akuntansi untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan up-to-date, mendukung pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan terpercaya.
Jika Anda mencari software IT inventory yang tepat, software IT inventory HashMicro adalah solusi yang telah memenuhi semua kriteria penting, mulai dari pencatatan real-time hingga integrasi dengan sistem akuntansi. Dengan HashMicro, manajemen inventaris Anda akan menjadi lebih efektif dan sesuai dengan regulasi.
Kesimpulan
Salah satu rekomendasi terbaik dari software ini adalah sistem IT inventory dari HashMicro yang menjadi langkah strategis untuk memastikan kemudahan dalam operasi ekspor-impor dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Segera daftarkan diri Anda untuk konsultasikan dengan kami untuk mendapatkan versi demo gratis sekarang juga!
Pertanyaan Seputar IT Inventory Kawasan Berikat
-
Kenapa ada Kawasan Berikat?
Kawasan Berikat berperan sebagai lokasi penyimpanan, akumulasi, dan pengolahan barang yang berasal dari luar maupun dalam negeri.
-
Apa keuntungan Kawasan Berikat?
Pengusaha yang memanfaatkan fasilitas kawasan berikat memperoleh manfaat berupa pembebasan bea masuk dan pemotongan pajak dalam rangka impor bahan baku, barang bantu, dan peralatan. Baca selengkapnya di sini!
-
Apa saja fungsi IT inventory Kawasan Berikat?
Beberapa fungsi dari sistem ini adalah sebagai berikut:
1. Menjaga stok barang produksi
2. Menjaga stok barang di pasaran
3. Memiliki kontrol penuh atas stok barang
4. Menjaga hubungan baik dengan customer -
Fasilitas apa saja yang diberikan pada Kawasan Berikat?
Kawasan Berikat memberikan berbagai fasilitas, termasuk penangguhan Bea Masuk serta pengecualian dari PPN, PPnBM, dan PPh pasal 22 impor untuk barang-barang seperti peralatan kantor dan barang modal yang digunakan secara eksklusif oleh pengusaha kawasan berikat. Baca selengkapnya di sini!
-
Apa itu IT inventory Kawasan Berikat?
IT Inventory Kawasan Berikat adalah salah satu sistem informasi yang wajib dimiliki oleh para perusahaan Kawasan Berikat dalam proses pengelolaan barang perusahaan. Setiap perusahaan juga harus memiliki sistem ini yang dapat pihak Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akses secara berkala.